Senin, 29 September 2014

60 Sahabat Nabi: Abdullah bin Zubair, Seorang Tokoh Dan Syahid Yang Luar Biasa

Ketika menempuh padang pasir yang panas bagai menyala dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah yang terkenal itu, ia masih merupakan janin dalam rahim ibunya. Demikianlah telah menjadi taqdir bagi Abdullah bin Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia, masih tersimpan dalam perut ibunya ….
Ibunya Asma,  semoga Allah ridla kepadanya dan ia jadi ridla kepada Allah  setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, datanglah saat melahirkan, dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya muhajirin lainnya dari shahabat- shahabat Rasulullah . . . !

Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu, dibawa kepada Rasulullah saw. di rumahnya di Madinah, maka dicium­nya kedua pipinya dan dikecupnya mulutnya, hingga yang  pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah yang mulia.
Kaum Muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir. Latar belakangnya ialah karena tatkala Rasulullah dan para shahabatnya tinggal menetap di Madinah, orang­orang Yahudi merasa terpukul dan iri hati, lalu melakukan perang urat saraf terhadap Kaum Muslimin. Mereka sebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir Kaum Muslimin dan membuat mereka jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan mereka . . . !
Maka tatkala Abdullah bin Zubeir muncul dari alam gaib, hal itu merupakan suatu kenyataan yang digunakan taqdir untuk menolak kebohongan orang-orang Yahudi di Madinah dan mematahkan tipu muslihat mereka … !

Di masa hidup Rasulullah, Abdullah belum mencapai usia dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah, telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia.
Anak kecil itu tumbuh dengan amat cepatnya dan menunjuk­kan hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadat, hidup sederhana dan perwira tidak terkira ….

Demikianlah hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan tabi’atnya yang tidak berubah dan semangat yang tak pernah kendor. la benar-benar seorang laki-laki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan kemauan yang keras membaja dan keimanan teguh luar biasa ….
Sewaktu pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, ia yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampil sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa . . .
Dalam pertempuran di Afrika sendiri, Kaum Muslimin yang jumlahnya hanya duapuluh ribu oang tentara, pernah meng­hadapi musuh yang berkekuatan sebanyak seratus duapuluh ribu orang.

Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak putus putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkit­kan semangat mereka dengan cara iatimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut ….
Abdullah maklum bahwa pasukan yang gagah perkasa ini tak mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini. Tetapi bagaimana caranya untuk menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya terhalang oleh tembok kukuh dari tentara musuh yang bertempur laksana angin puyuh . . .  !

Tetapi semangat dan keberanian Ibnu Zubeir tak perlu diragukan lagi untuk selama-lamanya … ! Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya, lalu katanya:  “Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku . . . !” Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis itu menuju raja musuh, dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya sekali pukul, hingga raja itu jatuh tersungkur. Kemudian secepatnya bersama kawan-kawannya ia mengepung tentara yang berada di sekeliling raja dan menghancurkan mereka …. lalu dikuman­dangkannya Allahu Akbar . . . !
Demi Kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di sana, yakni di tempat panglima Barbar berdiri menyampaikan perintah dan mengatur siasat, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka seolah-olah satu orang jua, mereka me­nyerbu ke muka, dan segala sesuatu pun berakhir dengan keuntungan di pihak Muslimin … !

Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama kepada khalifah Utsman bin Affan ….
Hanya kepahlawanannya dalam medan perang bagaimana juga unggul dan luar biasanya, tetapi itu tersembunyi di balik ketekunannya dalam beribadah . . .. Maka orang yang mempunyai tidak hanya satu dua alasan untuk berbangga dan menyombongkan dirinya ini akan menakjubkan kita karena selalu ditemukan dalam lingkungan orang-orang shaleh dan rajin beribadat.

Maka baik derajat maupun kemudaannya, kedudukan atau harta bendanya, keberanian atau kekuatannya, semua itu tidak mampu untuk menghalangi Abdullah bin Zubeir untuk menjadi seorang laki-laki ‘abid yang berpuasa di siang hari, bangun malam beribadat kepada Allah dengan hati yang khusuk niat yang suci.

Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah:  “Cobalah ceritakan kepada kami kepri­badian Abdullah bin Zubeir!” Maka ujarnya:  “Demi Allah! Tak pernah kulihat jiwa yang tersusun dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melakukan shalat, dan mengakhiri segala sesuatu dengannya . . . . Ia ruku’ dan sujud sedemikian rupa, hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertengger di atas bahunya atau punggungnya, menyangka­nya dinding tembok atau kain yang tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya sementara ia shalat, tetapi demi Allah, ia tidak peduli dan tidak goncang, tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu rukuk nya . . . !”

Memang, berita-berita sebenarnya yang diceritakan orang tentang ibadat Ibnu Zubeir, hampir merupakan dongeng. Maka di dalam shaum dan shalat, dalam menunaikan haji dan serta zakat, ketinggian cita serta kemuliaan diri . . . , dalam berteng­gang di waktu malam  sepanjang hidupnya  untuk bersujud dan beribadat …. dalam menahan lapar di waktu siang,  juga sepanjang usianya untuk shaum dan jihadun nafs . . . , dan dalam keimanannya yang teguh kepada Allah … dalam semua itu ia adalah tokoh satu-satunya tak ada duanya . . . !

Pada suatu kali, Ibnu Abbas ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir. Maka walaupun di antara kedua orang ini terdapat per­selisihan paham, Ibnu Abbas berkata:  “Ia adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah Rasul-Nya, tekun beribadat kepada-Nya dan shaum di siang hari karena takut kepada-Nya . . . . Seorang putera dari pembela Rasulullah, dan ibunya ialah Asma puteri Shiddiq, sementara bibinya ialah Khadijah iatri dari Rasulullah . . . . Maka tak ada seorang pun yang tak mengakui keutamaannya, kecuali orang yang dibutakan matanya oleh Allah … !”
Dalam keteguhan dan kekuatan wataknya, Abdullah bin Zubeir seolah-olah menandingi gunung layaknya . . . ! Terbuka jelas . . . . mulia . . . , tangguh .. , dan siap sedia selalu untuk mengurbankan nyawanya sebagai tebusan keterusterangan dan lurusnya jalan yang akan ditempuhnya ….

Sewaktu perseliaihan dan peperangannya dengan Mu’awiyah, ia dikunjungi oleh Hushain bin Numeir, yakni panglima tentara yang dikirim oleh Yazid untuk memadamkan pemberontakan Ibnu Zubeir.
Hushain berkunjung kepadanya tidak lama setelah sampainya berita ke Mekah tentang Kematian Yazid. Ia menawarkan kepada Ibnu Zubeir untuk ikut pergi bersamanya ke Syria, dan ia akan menggunakan pengaruhnya yang besar di sana agar bai’at dapat diberikan kepadanya … !

Abdullah menolak kesempatan emas ini karena menurut keyakinannya terhadap Syria harus dijalankan hukum qishash sebagai balasan atas dosa-dosanya dan kekejaman mereka ter­hadap kota Madinah, kota Rasulullah saw. demi memenuhi kehendak orang-orang Bani Umaiyah ….
Sungguh, kita berbeda pendapat dengan Abdullah mengenai pendiriannya ini, dan kita berharap kiranya ia lebih mementing­kan perdamaian dan ketenteraman, serta menggunakan kesempatan langka yang ditawarkan Hushain, panglima Yazid ini… !
Tetapi pendirian seorang laki-laki, laki-laki mana juga yang berdasarkan keyakinan dan kepercayaannya, dan penolak­annya untuk bersifat bohong dan munafiq, merupakan suatu hal yang patut mendapat penghargaan dan kekaguman … !

Dan tatkala ia diserang oleh Hajjaj dengan bala tentaranya yang diiringi kepungan ketat terhadap dirinya dan anak buahnya, maka di antara anak buahnya itu terdapat segolongan besar orang-orang Habsyi yang selalu hidup di medan perang dan para pemanah yang mahir.
Ibnu Zubeir mendengar mereka sedang membicarakan khalifah yang telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan r.a., tanpa mengindahkan tata-tertib kesopan­an dan tidak didasari oleh kesadaran, mereka dicelanya, katanya: “Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku kepada orang-orang yang membenci Utsman  !” Pada saat itu ia sangat memerlukan bantuan, tak ubah bagai seorang yang tenggelam membutuhkan pertolongan, tetap uluran tangan orang tersebut ditolaknya … !

Keterbukaannya terhadap diri pribadi serta kesetiaannya terhadap aqidah dan prinsipnya, menyebabkannya tidak peduli kehilangan duaratus orang pemanah termahir yang Agama mereka tidak dipercayai dan berkenan di hatinya! Padahal waktu itu ia sedang berada dalam peperangan yang akan menentukan hidup matinya, dan kemungkinan besar akan berubah arah, seandainya pemanah-pemanah ahli itu tetap berada di sam­pingnya.

Kemudian pembangkangannya terhadap Mu’awiyah dan puteranya Yazid sungguh-sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan itu adalah laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah Muslimin, seandainya memang dapat . . . ! Pandangannya ini memang beralasan, karena dalam soal apa pun juga, Yazid tidak becus! Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus dosa-dosanya yang diceritakan sejarah kepada kita, maka bagaimana Ibnu Zubeir akan mau bai’at kepadanya … ?

Kata-kata penolakannya terhadap Mu’awiyah selagi ia masih hidup amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib jelek apabila ia tidak mau bai’at pada Yazid … ? Ketika itu Ibnu Zubeir memberikan jawabannya: “Kapan pun, aku tidak akan bai’at kepada si pemabok … kemudian katanya berpantun :         “Terhadap hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham, dapat mengunyah batu menjadi lembut “.

Ibnu Zubeir tetap menjadi Amirul Mu’minin dengan meng­ambil Mekah al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan kekuasaannya terhadap Hejaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria kecuali Damsyik, setelah ia mendapat bai’at dari seluruh warga kota-kota daerah tersebut di atas.
Tetapi orang-orang Banu Umaiyah tidak senang diam dan berhati puas sebelum menjatuhkannya, maka mereka melancar­kan serangan yang bertubi-tubi, yang sebagian besar di antaranya berakhir dengan kekalahan dan kegagalan.

Hingga akhirnya datanglah masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang untuk menyerang Abdullah di Mekah itu memilih salah seorang anak manusia yang paling celaka dan paling merajalela dengan kekejaman dan kebuasannya … ! Itulah dia Hajjaj ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya Umar bin Abdul Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata:  “Andainya setiap ummat datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari mereka semua … ! “

Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj datang memerangi Mekah ibukota Ibnu Zubeir. Dikepung­nya kota itu serta penduduknya, selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat makanan dan air, dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang kara, tanpa tentara dan sanak saudara.

Dan karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapatkan dirinya tidak berteman atau kira-kira demikian . . . . Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan menyelamatkan nyawa­nya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan me­mikul tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun … !

Dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang berlangsung antara Abdullah dengan ibunya yang agung dan mulia itu, Asma’ binti Abu Bakar, yakni di saat­-saat yang akhir dari kehidupannya.
Ditemuinya ibunya itu dan dipaparkannya di hadapannya suasana ketika itu secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang sudah nyata tak dapat dielakkan lagi ….

Kata ‘Asma’ kepadanya:
“Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, shabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabiaan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani Umaiyah … ! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas ber­samamu!”

Ujar Abdullah:
“Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya! Dan sekali ­kali tidaklah anakanda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas …

Kata Asma’ Pula:
Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan­Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang shabar dan bersyukur …
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.

Dan beberapa kemudian, Abdullah bin Zubeir terlibat dalam pertempuran sengit yang tak seimbang, hingga syahid agung itu akhirnya menerima pukulan maut yang menewaskannya. Peria­tiwa itu menjadikan Hajjaj kuasa Abdul Malik bin Marwan ber­kesempatan melaksanakan kebuasan dan dendam kesumatnya, hingga tak ada jenis kebiadaban yang lebih keji kecuali dengan menyalib tubuh syahid suci yang telah beku dan kaku itu.

Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia sembilan ­puluh tujuh tahun, berdiri memperhatikan puteranya yang disalib. Dan bagaikan sebuah gunung yang tinggi, ia tegak meng­hadap ke arahnya tanpa bergerak. Sementara itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya: “Wahai ibu, Amirul Mu’minin Abdulmalik bin Marwan memberiku wasiat agar memperlakukan ibu dengan baik … !” “Maka adakah kiranya keperluan ibu … ?’

Bagaikan berteriak dengan suara berwibawa wanita itu berkata: “Aku ini bukanlah ibumu . . . ! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada tiang karapan … !
Tiada sesuatu pun yang kuperlukan daripadamu. Hanya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadits yang kudengar dari Rasulullah saw. sabdanya:
“Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang durjana   Adapun si pembohong telah sama-sama kita ketahui. Adapun si durjana, sepengetahuanku hanyalah kamu … ! “

Abdullah bin Umar r.a. datang menghiburnya dan mengajak­nya bershabar. Maka jawabnya:  “Kenapa pula aku tidak akan shabar, padahal kepada Yahya bin Zakaria sendiri telah diserah­kan kepada salah seorang durjana dari durjana-durjana Bani Iarail . . . !”

Oh, alangkah agungnya anda, wahai puteri Abu Bakar Shiddiq .. .. ! Memang, adakah lagi kata-kata yang lebih tepat diucapkan selain itu kepada orang-orang yang telah memisahkan kepala Ibnu Zubeir dari tubuhnya sebelum mereka menyalibnya . . .
Tidak salah! Seandainya kepala Ibnu Zubeir telah diberikan sebagai hadiah bagi Hajjaj, dan Abdul Malik, maka kepala Nabi yang mulia yakni Yahya a.s., dulu juga telah diberikan sebagai hadiah bagi Salome, seorang wanita yang durjana dan hina dari Bani Israil .’ . . ! Sungguh, suatu tamsil yang tepat dan kata-kata yang jitu … !

Kemudian mungkinkah kiranya bagi Abdullah bin Zubeir akan melanjutkan hidupnya di bawah tingkat yang amat tinggi dari keluhuran, keutamaan dan kepahlawanan ini, sedang yang menyusukannya ialah wanita yang demikian corak bentuk­nya. . ?
Salam kiranya terlimpah atas Abdullah …
Dan kiranya terlimpah pula atas Asma’ . . .!
Salam bagi kedua mereka di lingkungan syuhada yang tidak pernah fana … !
Dan di lingkungan orang-orang utama lagi bertaqwa …


Minggu, 07 September 2014

60 Sahabat Nabi: Salamah Bin Al Akwa', Pahlawan Pasukan Jalan Kaki

Puteranya Iyas ingin menyimpulkan keutamaan bapaknya dalam suatu kalimat singkat, katanya:
“Bapakku tak pernah berdusta … !” Memang, untuk men­dapatkan kedudukan tinggi di antara orang-orang shaleh dan budiman, cukuplah bagi seseorang dengan memiliki sifat-sifat ini! Dan Salamah bin al-Akwa’ telah memilikinya, suatu hal yang memang wajar baginya … !

Salamah salah seorang pemanah bangsa Arab yang terke­muka, juga terbilang tokoh yang berani, dermawan dan gemar berbuat kebajikan. Dan ketika ia menyerahkan dirinya menganut Agama Islam, diserahkannya secara benar dan sepenuh hati, hingga ditempalah oleh Agama itu sesuai dengan coraknya yang agung.

Salamah bin al-Akwa’ termasuk pula tokoh-tokoh Bai’atur Ridwan. Ketika pada tahun 6 H. Rasulullah saw. bersama para sha­habat berangkat dari Madinah dengan maksud hendak berziarah ke Ka’bah, tetapi dihalangi oleh orang-orang Quraisy, maka Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa tujuan kunjungannya hanyalah untuk berziarah dan sekali-kali bukan untuk berperang ….

Sementara menunggu kembalinya Utsman, tersiar berita bahwa ia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah lalu duduk di bawah naungan sebatang pohon menerima bai’at sehidup semati dari shahabatnya seorang demi seorang. Berceritalah Salamah:
“Aku mengangkat bai’at kepada Rasulullah di bawah pohon, dengan pernyataan menyerahkan jiwa ragaku untuk Islam, lalu aku mundur dari tempat itu. Tatkala mereka tidak berapa banyak lagi, Rasulullah bertanya: “Hai Salamah, kenapa kamu tidak ikut bai’at … !”
“Aku telah bai’at, wahai Rasulullah!” ujarku.
“Ulanglah kembali!” titah Nabi. Maka kuucapkanlah bai’at itu kembali”.
Dan Salaman telah memenuhi isi bai’at itu sebaik-baiknya. Bahkan sebelum diikrarkannya, yakni semenjak ia mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah, wa-asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maksud bai’at itu telah dilaksanakan!
Kata Salamah: “Aku berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali, dan bersama Zaid bin Haritsah sebanyak Sembilan kali”.

Salamah terkenal sebagai tokoh paling mahir dalam pepe­rangan jalan kaki, dan dalam memanah serta melemparkan tombak dan lembing. Siasat yang dijalankannya serupa dengan perang gerilya, yang kita jumpai sekarang ini. Jika musuh datang menyerang, ia menarik pasukannya mundur ke belakang. Tetapi bila mereka kembali atau berhenti untuk beristirahat, maka diserangnya mereka tanpa ampun … !

Dengan siasat seperti ini ia mampu seorang diri menghalau tentara yang menyerang luar kota Madinah di bawah pimpinan Uyainah bin Hishan al-Fizari dalam suatu peperangan yang disebut perang Dzi Qarad. Ia pergi membuntuti mereka seorang diri, lalu memerangi dan menghalau mereka dari Madinah, hingga akhirnya datanglah Nabi membawa bala bantuan yang terdiri dari shahabat-shahabatnya.
Pada hari itulah Rasulullah menyatakan kepada para sha­habatnya: — “Tokoh pasukan jalan kaki kita yang terbaik ialah Salamah bin al-Akwa’ … !”

Tidak pernah Salamah berhati kesal dan merasa kecewa kecuali ketika tewas saudaranya yang bernama ‘Amir bin al­Akwa’ di perang Khaibar… .
Ketika itu ‘Amir mengucapkan pantun dengan suara keras di hadapan tentara Islam, katanya:
“Kalau tidak karena-Mu tidaklah kami ‘kan dapat hidayah. Tidak akan shalat dan tidak pula akan berzakat
Maka turunkanlah ketetapan ke dalam hati kami Dan dalam berperang nanti, teguhkanlah kaki-kaki kami”.
Dalam peperangan itu ‘Amir memukulkan pedangnya kepada salah seorang musyrik. Tetapi rupanya pedang yang digenggam­nya hulunya itu melantur dan terbalik hingga menghujam pada ubun-ubunnya yang menyebabkan kematiannya.
Beberapa orang Islam berkata: “Kasihan ‘Amir . .. ! Ia terhalang mendapatkan mati syahid!”

Maka pada waktu itu, yah, hanya sekali itulah, tidak lebih Salamah merasa amat kecewa sekali. Ia menyangka sebagai sangkaan shahabat-shahabatnya bahwa saudaranya ‘Amir itu tidak mendapatkan pahala berjihad dan sebutan mati syahid, disebabkan ia telah bunuh diri tanpa sengaja.

Tetapi Rasul yang pengasih itu, segera mendudukkan perkara pada tempat yang sebenarnya, yakni ketika Salamah datang kepadanya bertanya: “Wahai Rasulullah, betulkah pahala ‘Amir itu gugur …?’
Maka jawab Rasulullah saw.:
“Ia gugur bagai pejuang Bahkan mendapat dua macam pahala Dan sekarang ia sedang berenang Di sungai-sungai surga … !”

Kedermawanan Salamah telah cukup terkenal, tetapi ada hal yang luar biasa. Hingga ia akan mengabulkan permintaan orang termasuk jiwanya apabila permintaan itu atas nama Allah … !
Hal ini rupanya diketahui oleh orang-orang itu. Maka jika seseorang ingin tuntutannya berhasil, ia akan mengatakan ke padanya: “Kuminta pada anda atas nama Allah … !” Menge­nai ini Salamah pernah berkata: “Jika bukan atas nama Allah, atas nama siapa lagi kita akan memberi … ?”

Sewaktu Utsman r.a. dibunuh orang, pejuang yang perkasa ini merasa bahwa api fitnah telah menyulut Kaum Muslimin, ia seorang yang telah menghabiskan usianya selama ini berjuang bahu-mernbahu dengan saudara seagamanya, tak sudi berperang menghadapi saudara seagamanya.

Benar . . . ! Seorang tokoh yang telah mendapat pujian dari Rasulullah tentang keahliannya dalam memerangi orang­-orang musyrik, tidaklah pada tempatnya ia menggunakan ke­ahliannya itu dalam memerangi atau membunuh orang-orang Mu’min. Itulah sebabnya ia mengemasi barang-barangnya lalu meninggalkan Madinah berangkat menuju Rabdzah . . . , yaitu kampung yang dipilih oleh Abu Dzar dulu sebagai tempat hijrah dan pemukiman barunya.


Maka di Rabdzah inilah Salamah melanjutkan sisa hidupnya, pada suatu hari di- tahun 74 H., hatinya merasa rindu berkunjung ke Madinah. Maka berangkatlah ia untuk memenuhi kerinduan­nya itu. la tinggal di Madinah satu dua hari dan pada hari ketiga ia pun wafat …. Demikianlah, rupanya tanahnya yang tercinta dan lembut empuk itu memanggil puteranya ini untuk merangkul­nya ke dalam pelukannya dan memberikan ruangan baginya di lingkungan shahabat-shahabatnya yang memperoleh berkah bersama para syuhada yang shaleh ….

Jumat, 20 Juni 2014

60 Sahabat Nabi: 'Imran Bin Hushain, Menyerupai Malaikat


Di tahun perang Khaibarlah ia datang kepada Rasulullah saw. untuk bai’at …. Dan semenjak ia menaruh tangan kanan­nya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya itu mendapat penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia pada dirinya tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia ….

Ini pertanda merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus ….
‘Imran bin Hushain r.a. merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud dan keshalehan serta mati-matian dalam mencintai Allah dan mentaati-Nya. Walaupun ia mendapat taufik dan petunjuk Allah yang tidak terkira, tetapi ia sering menangis mencucurkan air mata, ratapnya:  “Wahai, kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja … !”

Orang-orang itu takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka! Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadat ruku’ dan sujud, tetapi ibadatnya, dan syukurnya itu belumlah memadai ni’mat yang mereka telah terima.

Pernah suatu saat beberapa orang shahabat menanyakan pada Rasulullah saw.:
“Ya Rasulullah, kenapa kami ini … ?
Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala … !
Tetapi demi kami meninggalkanmu dan kami berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri …
Ujar Rasulullah saw.:
“Demi Allah, Yang nyawaku berada dalam tangan-Nya! Seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya
menyalami kamu .. . ! Tetapi, yah yang demikian itu hanya sewaktu-waktu … !”

Pembicaraan itu kedengaran oleh ‘Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berbenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut, bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun!
Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu, tetapi ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Robbul’alamin … !

Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab, ‘Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari pen­duduk dan membimbing mereka mendalami Agama. Demikian­lah di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka demi dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketaqwaannya.
Berkata Hasan Basri dan Ibnu Sirin:  “Tidak seorang pun di antara shahabat-shahabat Rasul saw. yang datang ke Bashrah, lebih utama dari ‘Imran bin Hushain … !”

Dalam beribadat dan hubungannya dengan Allah, ‘Imran tak sudi diganggu oleh sesuatu pun. la menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadat, hingga seakan-akan ia bukan penduduk bumi yang didiaminya ini lagi … ! Sungguh, seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup di lingkungan Malai­kat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya … .
Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara Kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja ‘Imran bersikap tidak memihak, bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangan dalam perang ter­sebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Katanya pada mereka: “Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak … !”

Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, diamanat­kannya: “Tetaplah tinggal di mesjidmu … Dan jika ada yang memasuki mesjidmu, tinggallah di rumahmu … ! Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia … !”

Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadat kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring .  .  .

Dan ketika para shahabatnya dan orang-orang yang men­jenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil ujarnya: “Sesungguhnya barang yang paling kusukai, ialah apa yang paling disukai Allah … !” Dan sewaktu ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum kerabat­nya dan para shahabatnya, ialah: “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan … !”

Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan! Karena kematian seorang Mu’min seperti ‘Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya! Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana suatu ruh yang tinggi yang ridla dan diridlai-Nya diarak ke dalam surga, yang besarnya seluas langit dan bumi yang disedia­kan bagi orang-orang yang taqwa ….


Kamis, 19 Juni 2014

60 Sahabat Nabi: Abu Sufyan Bin Harits, Habis Gelap Terbitlah Terang


Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu’awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka …. Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu­nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri di haribaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut … !

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi’ah dan Ab­dullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari parnannya,. Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selama beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa’diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada per­untungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja’far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya, ialah:
“Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul’alamin … !”
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ….

Di Abwa’ kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. la bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan mengguna­kan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum iatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja’far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka dari padanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru: “Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Mu.hammadar Rasulullah . . . . “. Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya kata­nya: “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah”. Rasulullah pun menjawab:
“Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!” Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya:  “Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini”.

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: “Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula. . .
Demikianlah hanya sekejap saat . . . ! Rasulullah bersabda: “Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah … !” Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada ter­batas.

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan ‘Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.
Tanpa menunggu lama Abu Lahab memanggilnya, katanya: —”Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana … !”
Ujar Abu Sufyan bin Harits:  “Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka . . . ! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy . . . ! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengen­darai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun . . . !”
yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia dating nanti . . . Nah, saat petun­juk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul’alamin… !

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketinggal­annya selama ini . . – .
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pem­pembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulullah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya berseru: “Hai manusia . . . ! Saya ini Nabi dan tidak dusta . . Saya adalah putra Abdul Mutthalib … !”
Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada bebe­rapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja’far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, . yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah mem­beri mereka kemenangan mutlak.
Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling . . . . Kiranya didapatinya seorang Mu’min sedang memegang erat-erat tali kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.
Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: “Siapa ini . . . ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits. . . !” Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan “saudaraku”, hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ….

Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menvatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya:
‘Warga Ka’ab dan ‘Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menerjuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridlaan Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali”.

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kepadaan agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi ke­padaan tetap menjadi tumpuan hidupnya … !

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi’ sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya: “Aku sedang menyiapkan kuburku …. “.
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring di rumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya:  “Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa … ! “

Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkat­kannya sedikit ke atas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ….

Rabu, 18 Juni 2014

60 Sahabat Nabi: Abdullah Bin 'Amr Bin 'Ash, Tekun Beribadat Dan Bertaubat


Seorang abid yang shaleh, rajin beribadat dan gemar bertaubat yang kita paparkan riwayatnya sekarang ini ialah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Seandainya bapaknya menjadi guru dalam kercerdasan, kelihaian dan banyak tipu muslihat, sebaliknya Abdullah, menjadi teladan yang mempunyai kedudukan tinggi di antara ahli-ahli ibadat yang bersifat, zuhud dan terbuka. Seluruh waktu dan sepanjang kehidupannya dipergunakannya untuk beribadat. Ia berhasil mengecap manisnya iman, hingga waktu siang dan malam itu tidak cukup puas untuk menampung kebaktian serta aurat lbadatnya.

Ia lebih dulu masuk Islam daripada bapaknya. Dan semenjak ia bai’at dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak kanan Rasulullah saw., sementara hatinya yang tak ubahnya dengan cahaya shubuh yang cemerlang diterangi oleh nur Ilahi dan cahaya ketaatannya, pertama-tama Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap al-Qura’n diturunkan secara ber­angsur-angsur.
Setiap turun ayat maka dihafalkan dan diusahakannya untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna ia pun telah hafal keseluruhannya.

Dan ia menghafalkan itu bukanlah hanya sekedar mengingat hingga seolah-olah ingatannya itu menjadi musium bagi sebuah buku tebal …. tetapi dihafalkan dengan tujuan dapat diperguna­kan untuk memupuk jiwanya, dan kemudian agar ia dapat menjadi hamba Allah yang taat, menghalalkan apa yang dihalal­kanNya dan mengharamkan apa yang diharamkanNya serta memperkenankan seruannya. Kemudian tiada bosan-bosannya ia membaca, melagukan dan merenungkan isinya, menjelajahi taman-tamannya yang indah mekar, gembira ria jika kebetulan ayat-ayatnya yang mulia itu menceritakan kesenangan, sebalik­nya menangis mengucurkan air mata jika membangkitkan hal-hal yang menakutkan … !

Abdullah telah ditaqdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadat, tidak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat yang suci ini dan tertanamnya nur Ilahi yang telah ditaqdirkan bagi dirinya itu.
Apabila tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan per­musuhan, maka kita akan menjumpai di barisan terdepan, men­cintakan syahid dengan hati yang rindu jiwa yang asyik.

Dan jika peperangan itu telah usai, di mana kita akan me­nemuinya? Di mana lagi, kalau tidak di mesjid umum atau di mushalla rumahnya, shaum di waktu siang dan berdiri shalat di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percakapan tentang soal dunia walaupun yang tidak terlarang, sebaliknya tidak kering-keringnya berdzikir kepada Allah, tasbih memuji-Nya, istighfar terhadap dosanya atau membaca kitab Suci-Nya.

Untuk mengetahui betapa jauhnya Abdullah terlibat dalam beribadat, cukuplah kita perhatikan Rasulullah yang sengaja datang menyeru manusia untuk beribadat kepada Allah, terpaksa campur tangan agar ia tidak sampai keterlaluan dan berlebih­-lebihan … !
Demikianlah, seandainya salah satu segi dari pelajaran yang dapat ditarik dari kehidupan Abdullah bin Amr, menyingkapkan kemampuan luar biasa yang tersimpan dalam jiwa manusia untuk mencapai tingkat tertinggi dalam beribadat dan meninggal­kan kesenangan duniawi, seginya yang lain ialah perlindungan Agama agar orang bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam mencapai segala ketinggian dan kesempurnaan itu, hingga jiwa seseorang itu tetap mempunyai gairah hidup dan semangat bermasyarakat .. . , dan agar jasmaninya tetap dalam keadaan kondisi siap melaksanakan segala tugas … !

Rasulullah saw. telah mengetahui rahasia jalan dan corak kehidupan Abdullah bin Amr bin Ash hanya satu dan tidak berubah! Jika tidak pergi berjuang, maka hari-harinya itu dari mulai fajar sampai fajar berikutnya terpusat pada ibadat yang sambung-menyambung, berupa shaum, shalat dan membaca al-Quran .
Dipanggilnyalah Abdullah dan diasuruhnya agar tidak ke­terlaluan dalam beribadat itu. Tanya Rasulullah saw.:
“Kabarnya kamu selalu shaum di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur … ?” cukuplah shaum tiga hari dalam setiap bulan … ” Ujar Abdullah: “Aku sanggup lebih banyak dari itu . . . ! ” Sabda Nabi saw.: “Kalau begitu cukup dua hari dalam seminggu!”Jawab Abdullah: “Aku sanggup lebih banyak lagi.”Sabda Rasulullah saw.: “Jika demikian, baiklah kamu lakukan shaum yang lebih utama, yaitu shaum Nabi Daud, shaum sehari lalu berbuka sehari! (al-Hadits)

Setelah itu ditanyakan pula oleh Rasulullah saw.: — “Aku tahu bahwa kamu membaca al-Quran sampai tamat dalam satu malam . . . ! Aku khawatir kalau-kalau usiamu lanjut dan jadi bosan membacanya . . . ! Bacalah setiap sebulan sekali khatam! Atau kalau tidak, sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam tiga hari … !”
Lalu sabdanya pula:
“Aku shaum dan berbuka bangun shalat malam dan tidur, juga kawin dengan perempuan. Maka siapa yang tidak suka akan Sunnahku, tidaklah termasuk golongan ummatku… !” (al-Hadits)

Dan benarlah Abdullah bin ‘Amr dikaruniai usia lanjut. Maka tatkala ia sudah tua dan tulangnya jadi lemah, ia selalu teringat nasihat Rasulullah dulu itu, lalu katanya: “Wahai malang nasib­ku, kenapa tidak laksanakan keringanan dari Rasulullah … !”
Seorang Mu’min seperti Abdullah ini, akan sulit dijumpai dalam suatu pertempuran  apapun corak pertempuran itu —yang berkecamuk di antara dua golongan Muslimin. Kalau begitu, apakah kiranya yang membawa kakinya dari Madinah ke Shiffin, dan menggabungkan diri pada barisan Mu’awiyah dalam pertempuran menghadapi Ali … ?

Selamanya sikap yang diambil oleh Abdullah ini patut untuk direnungkan, sebagaimana pula setelah memahaminya, layak untuk beroleh penghargaan dan penghormatan!
Telah kita lihat betapa Abdullah bin ‘Amr memusatkan perhatiannya terhadap ibadat, hingga dapat membahayakan nyawanya. Hal ini amat mencemaskan hati bapaknya, hingga sering dilaporkannya kepada Rasulullah.
Pada kali terakhir Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadat itu sambil membatasi waktu-­waktunya, ‘Amr kebetulan hadir. Rasulullah mengambil tangan Abdullah dan meletakkannya di tangan bapaknya, ‘Amr, lalu katanya: “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah olehmu bapakmu … !”

Dan walaupun selama ini, disebabkan akhlaq dan keagamaan­nya, Abdullah selalu taat kepada kedua orang tuanya, tetapi perintah Rasulullah secara demikian dan suasana khusus seperti itu, meninggalkan kesan yang dalam pada dirinya. Dan selama usianya yang panjang, sesaat pun Abdullah tidak lupa akan kalimat pendek ini: “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah olehmu bapakmu
Kemudian, hari berganti hari, tahun berganti tahun . . . Mu’a­wiyah di Syria menolak bai’at terhadap Ali. Sebaliknya Ali menolak tunduk terhadap pembangkangan yang tak dapat dibenarkan. Maka terjadilah peperangan di antara dua golongan Kaum Muslimin. Perang Jamal telah berlalu dan sekarang datang saat perang Shiffin ….

Amr bin ‘Ash telah menentukan sikapnya berpihak kepada Mu’awiyah. Dan ia tahu benar bagaimana penghormatan Kaum Muslimin terhadap puteranya Abdullah, begitupun kepercayaan mereka terhadap Agamanya. Maka rencananya hendak membawa serta puteranya itu yang tak dapat tidak akan menguntungkan sekali pihak Mu’awiyah. Di samping itu menurut ‘Amr kehadiran Abdullah di dekatnya akan membawa nasib mujur baginya dalam peperangan. la belum lupa kenyataan-kenyataan itu di saat penyerbuan ke Syria dan waktu pertempuran Yarmuk.

Sebab itu ketika hendak berangkat ke Shiffin dipanggilnya­lah puteranya itu lalu katanya: “Hai Abdullah! Bersiap-siaplah untuk berangkat! Kamu akan berperang di pihak kami . . . !” Ujar Abdullah: “Bagaimana . . . ? Padahal Rasulullah saw. telah mengamanatkan kepadaku agar tidak menaruh senjata di atas leher orang Islam untuk selama-lamanya … !’

Dengan kecerdikannya ‘Amr mencoba meyakinkan Abdullah, bahwa maksud kepergian mereka ini hanyalah untuk membekuk pembunuh-pembunuh Utsman dan menuntutkan bela darah sucinya. Kemudian secara tila-tiba ia memasang perangkap mautnya, katanya: “Masih ingatkah kamu wahai Abdullah akan amanat terakhir yang diaampaikan Rasulullah kepadamu, ketika ia mengambil tanganmu lalu meletakkannya ke atas tanganku seraya katanya: “Taatilah bapakmu . . . !” Dan sekarang saya menghendaki sekali agar kamu turut bersama kami dan ikut berperang!”

Demikianlah Abdullah berangkat demi taatnya kepada bapak­nya. Maksudnya tiada akan memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan seorang Muslim pun. Tetapi betapa caranya? Yah, yang penting baginya kini turut bersama bapaknya! Adapun di waktu perang nanti, maka terserahlah kepada Allah bagaimana taqdir-Nya!

Perang pun berkecamuk dengan hebat dan dahsyat …. Ahli-­ahli sejarah berbeda pendapat, apakah Abdullah ikut serta di permulaan perang itu ataukah tidak. Kita katakan “di permulaan”, karena tidak lama setelah itu, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan Abdullah bin ‘Amr mengambil sikap secara terang-terangan menentang peperangan dan menentang Mu’awiyah.

Periatiwa itu dikarenakan ‘Ammar bin Yasir berperang di pihak Imam Ali. ‘Ammar ini seorang yang amat dihormati oleh para shahabat umumnya. Lebih-lebih lagi Rasulullah sudah semenjak dulu meramalkan kematiannya dan juga siapa-siapa pembunuhnya.

Ceritanya ialah bahwa ketika itu Rasulullah bersama shaha­bat-shahabatnya sedang membangun mesjid di Madinah, yakni tidak lama setelah kepindahan mereka ke sana. Batu-batu yang digunakan sebagai bahannya ialah batu-batu besar dan berat, hingga setiap orang hanya dapat mengangkat sebuah saja. Tetapi ‘Ammar, mungkin karena gairah dan semangatnya, dapat membawa dua-dua buah. Hal itu tampak oleh Rasulullah, maka dipandanginya anak muda itu dengan kedua matanya yang ter­genang air, lalu katanya: — “Kasihan anak Sumaiyah! la dibunuh oleh pihak yang durhaka . . .

Semua shahabat yang ikut bekerja pada hari itu, sama men­dengar nubuwat Rasulullah ini dan selalu ingat kepadanya. Dan Abdullah bin ‘Amr juga termasuk di antara yang mendengarnya. Di saat awal peperangan antara pihak Ali dan Mu’a­wiyah itu ‘Ammar naik ke tempat-tempat yang ketinggian dan berseru dengan sekuat suaranya membangkitkan semangat:
“Hari ini kita akan menjumpai para kekasih . . . , Nabi Muhammad beserta shahabat-shahabatnya!”

Sekelompok anak buah Mu’awiyah berembuk untuk meng­habisinya. Mereka sama-sama mengarahkan anak panah kepada­nya lalu melepaskannya secara serempak . tepat mengenai sasaran, dan langsung mengantarkan qurban ke alam syuhada dan para pahlawan . . . .

Berita tewasnya ‘Ammar ini menjalar bagai angin kencang. Dan mendengar itu Abdullah bangkit serentak, hatinya meledak dan berontak, serunya: “Apa, ‘Ammar tewas terbunuh . . . ? Dan kalian si pembunuh-pembunuhnya . . . ? Kalau begitu, kalianlah pihak yang aniaya. Kalian berperang di jalan yang sesat dan salah . . . !”

Abdullah berkeliling pada barisan Mu’awiyah sebagai juru nasihat, melemahkan semangat mereka dan menyatakan secara blak-blakan bahwa mereka adalah pihak yang aniaya, karena merekalah yang telah membunuh ‘Ammar! Duapuluh tujuh tahun yang lalu, di hadapan sekelompok shahabat-shahabatnya, Rasulullah saw. telah menyampaikan nubuwatnya bahwa ia akan dibunuh oleh pihak yang aniaya … !

Ucapan Abdullah itu disampaikan orang kepada Mu’awiyah, yang segera memanggil ‘Amr dan puteranya itu. Katanya kepada ‘Amr:  “Kenapa tidak anda membungkam anak gila itu. . Jawab Abdullah: “Saya tidak gila, hanya saya dengar Rasulullah mengatakan kepada ‘Ammar, “Kamu akan dibunuh oleh pihak yang aniaya!” “Kalau begitu, kenapa kamu ikut bersama kami?” Tanya Mu’awiyah. Ujar Abdullah: “Yah, karena Rasulullah memerintahku agar taat kepada bapakku. Dan aku telah men­taati perintahnya supaya ikut pergi, tetapi aku tidak ikut ber­perang dengan kamu … !”

Tiba-tiba ketika mereka tengah berbicara itu, masuklah pengawal yang memijita idzin bagi pembunuh ‘Ammar untuk menghadap. “Suruhlah masuk!” seru Abdullah, “dan sampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia akan jadi umpan neraka!”
Bagaimana juga tenang dan shabarnya Mu’awiyah, tetapi ia tak dapat mengendalikan amarahnya lagi, lalu bentaknya kepada ‘Amr: “jangan kamu dengarkah katanya itu?” Tetapi dengan ketenangan dan kepasrahan orang yang taqwa, Abdullah kembali menegaskan kepada Mu’awiyah bahwa apa yang dikata­kannya itu barang haq dan bahwa pihak yang membunuh ‘Ammar tidak lain dari orang-orang aniaya dan pendurhaka. Kemudian sambil mengalihkan mukanya kepada bapaknya, katanya:. “Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh anakanda agar mentaati ayahanda, tidaklah anakanda akan menyertai perjalanan ayahanda ini.

Mu’awiyah dan ‘Amr pergi keluar memeriksa pasukan. Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa anak buahnya sedang mempercakapkan nubuwat Rasulullah terhadap ‘Ammar: “Kamu akan dibunuh oleh pihak yang aniaya!”
Kedua pemimpin itu merasa bahwa desas-desus itu dapat meningkat menjadi tantangan dan pembangkangan terhadap Mu’awiyah. Maka mereka pun memikirkan suatu muslihat, yang kemudian mereka peroleh lalu dilontarkan kepada khalayak ramai, kata mereka:  “Memang benar, bahwa Rasulullah pernah mengatakan kepada ‘Ammar bahwa ia akan dibunuh oleh pihak yang aniaya. Nubuwat Rasulullah itu benar, dan buktinya se­karang ‘Ammar telah dibunuh! Nah, siapakah yang membunuh­nya? Pembunuhnya tidak lain dari orang-orang yang telah mengajaknya pergi ikut berperang . . . !”

Dalam suasana kacau balau dan tak menentu seperti itu, berbagai logika dan alasan akan dapat diberikan! Demikianlah keterangan dan logika Mu’awiyah dan ‘Amr laria dan mendapat pasaran …
Kedua pasukan pun mulai bertempur lagi, sementara Abdul­lah bin ‘Amr kembali ke mesjid dan ibadahnya ….

Abdullah bin ‘Amr menjalani kehidupannya dan tidak mengisinya kecuali dengan mengabdikan diri dan beribadat. Tetapi ikut sertanya pergi ke shifhin semata-mata kepergiannya saja, senantiasa merupakan sumber kegelisahannya. Ingatan itu tak hendak hilang-hilang dari fikirannya, sampai-sampai ia menangis, keluhnya: “Oh, apa perlunya bagiku Shiffin … ! Oh, apa perlunya bagiku memerangi Kaum Muslimin … !”

Pada suatu hari, sewaktu ia sedang duduk-duduk dengan. beberapa orang shahabatnya di mesjid Rasul, lewatlah Husein bin Ali r.a. dan mereka pun bertukaran salam. Tatkala Husein telah berlalu, berkatalah Abdullah kepada orang-orang sekeliling­nya: “Sukakah kalian kutunjukkan penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit … ? Dialah yang baru saja lewat di hadapan kita tadi …. Husein bin Ali .            Semenjak perang Shiffin, ia tak pernah berbicara denganku . . . Sungguh, ridla­nya terhadap diriku, lebih kusukai dari barang berharga apa pun juga … ! “

Abdullah berunding dengan Abu Sa’id al-Khudri untuk berkunjung kepada Husein. Demikianlah akhirnya kedua orang termulia itu bertemu muka di rumah Husein. Lebih dulu Abdul­lah bin ‘Amr membuka percakapan, hingga sampai disebut-sebut soal Shiffin. Husein mengalihkan pembicaraan ini sambil sertanya: “Apa yang membawamu sehingga engkau ikut berperang di fihak Mu’awiyah?”

Ujar Abdullah: “Pada suatu hari aku diadukan bapakku ‘Amr bin ‘Ash menghadap Rasulullah saw., katanya: “Abdullah ini shaum setiap hari dan beribadat setiap malam. Kata Rasul­ullah kepadaku: “Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, Serta shaum dan berbukalah, dan taatilah bapakmu . . . !” Maka sewaktu perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan keras agar ikut pergi bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah tak pernah aku menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah … !” Ia pun menjelaskan apa yang ter­jadi dengan Mu’awiyah tentang ‘Ammar.

Tatkala usianya meningkat yang diberkati itu ketujuh puluh dua tahun …. Ia sedang berada di mushallanya, selagi ia men­dekatkan diri memohon dan munajat ke hadapan Allah Robbul Alamin, bertashbih dan bertahmid, tiba-tiba ada suara memanggil untuk melakukan perjalanan jauh, yaitu perjalanan abadi yang takkan kembali ….

Disambutnya panggilan itu dengan hati yang telah lama rindu, dan terbang melayanglah ruhnya menyusul teman-temannya yang telah mendahuluinya mendapat kebahagiaan, sementara suara hiburan menghimbaunya dari Rafiqul A’la:
“Wahai jiwa yang tenang tenteram!
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai … !
Maka masuklah dalam golongan ummat-Ku dan masuklah ke dalam sorga-Ku …!”